You are currently browsing the category archive for the ‘deen’ category.

Pagi ini saya mengalami rangkaian kejadian yang mengharuskan saya ‘kehilangan’ beberapa hal. Saat saya berkata belajarlah ikhlas maka ada yang bilang ini karena saya tidak pernah belajar dari kesalahan, ada yang bilang saya belum bisa ikhlas karena kebanyakan belajar, tidak pernah ‘action’ -menerapkan- ikhlas, ada yang mendoakan agar saya bisa mendapatkannya, ada yang mendorong untuk terus belajar.

Dalam satu kalamNya, Allah subhanahu wa ta’ala, mengajarkan kita agar mencapai satu tingkatan dimana ketika ketika ‘melempar batu’ maka sesungguhnya bukan tangan kita yang melempar, ketika kita ‘berbicara’ maka sesungguhnya bukan kita yang berbicara. Saya tidak akan menafsirkan ayat ini karena pertama dan terakhir, saya bukan mufassir. Yang hendak saya bagi kepada pembaca budiman adalah, pengalaman saya dalam memahami ayat ini.

Anda mungkin bertanya, ‘Apa hubungannya dengan ikhlas dan restorasi muamalah?’

Dalam apa yang saya alami, hubungan ayat Allah, subhanahu wa ta’ala tersebut terkait erat dengan apa yang kita, atau setidaknya, saya lakukan. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir ini, saya terlibat dengan satu gerakan global pengembalian rukun zakat dan muamalah. Dalam kurun waktu tersebut, saya bertemu banyak orang, belajar banyak hal dan membuat banyak kesalahan. Percaya atau tidak, saya memang sedang belajar, meski saya mengulangi kesalahan dan membuat kesalahan baru. Salah satu ‘materi pelajaran’ yang sering saya renungkan, dan coba terapkan adalah:

‘Apakah yang saya lakukan dalam gerakan ini murni karena Allah, atau karena ciptaanNya?’
‘Apakah saya ikhlas atau ingin berharap balas?’
‘Apakah saya ingin dipandang atau justru ingin menghilang?’
dan seterusnya, dan seterusnya…

Jujur, pembaca yang budiman, saya belum tahu jawabannya.

Dinar dan Dirham hanyalah satu komponen bagi kembalinya Rukun Zakat dan muamalah. Keberadaan kedua koin tersebut vital bagi tegaknya Islam karena keduanya merupakan bagian dari ketentuan Rukun Zakat. Akan tetapi, kilauan Dinar dan Dirham dapat menjadi begitu menyilaukan, membuai indera. Mungkin karena hal itu pula, banyak yang kemudian terpesona olehnya dan lupa kepada tujuan awal dan akhirnya. Yang jelas, bagi saya keberadaan koin-koin ini memberikan jalan bagi saya untuk memahami ayat di atas, serta memberikan wahana bagi saya untuk belajar ikhlas dalam menjalani tugas serta kehidupan saya.

Imam Junayd, semoga Allah merahmatinya berkata:
‘Sekiranya keridhaan Allah kepada saya adalah menjadikan saya sebagai cacing, maka jadi cacinglah saya’

Para sufi memohon kepadaNya:
‘Ya Rabb, jadikanlah aku layaknya semut hitam, yang berjalan di atas batu hitam yang ditaruh di ruangan gelap tak bercahaya, saat malam kelam tak berbintang dan tanpa rembulan’

Mengingat doa para arifin ini:

Saya hanya bisa melangkah dan melafazkan berulang Nama Allah.
Saya takut semisalnya saya riya’ dan haus akan harta
Saya takut terjerembab dan membawa angkara
Saya berharap dan memohon diberi pemahaman serta kemampuan bertanggung jawab atas seluruh tindakan saya.
Saya berharap diberikan ikhlas dan sabar, meski saya harus menghabiskan seluruh hidup saya untuk mendapatkannya

Semoga Allah menganugrahkan ikhlas kepada anda dan keluarga
Aamiin Ya Rabbal Alamin

Iklan

Moussem.2011:.Pengukuhan.Shaykh.Umar.I.Vadillo.

Tugas utama Muslim di zaman ini adalah memerangi Riba. Caranya adalah dengan menegakkan kembali muamalat, perdagangan yang halal, penggunaan alat tukar Dinar emas dan Dirham perak, mendirikan pasar-pasar, mengamalkan kembali kontrak-kontrak bisnis menuruti sunnah, yaitu qirad dan shirkat – Shaykh Umar Ibrahim Vadillo

Bismillah…

Kejadian-kejadian beserta komentar-komentar yang sudah kelewat batas mengenai pernikahan akhir-akhir ini, memuakkan!. Orang umum (awam) dan orang bodoh (ignorances) berterusan menulis, berpendapat tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. (sungguh sebenarnya tidak ada pendapat dalam Deen Islam),berdemo dan MELAWAN serta MENENTANG sesuatu yang sudah dihalalkan oleh Allah dan diamalkan oleh Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam beserta umat yang mengikuti beliau.
Pernikahan, baik dengan satu istri sampai empat istri, adalah sesuatu yang halal, jelas perintahnya dalam Qur’an, jelas Sunnah (i.e tata cara pengamalannya) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah, sallalahua alayhi wa sallam. Kita tidak dalam posisi untuk mempertanyakan, menentang dan Astaghfirullah, menolak serta mengingkari perintah Allah. Jelas bahwa laki-laki dalam Islam diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri. Dua, tiga, atau empat, akan tetapi jika kita khawatir belum bisa berbuat adil maka satu lebih baik untuk kita, begitu Allah, subhana hu wa ta ala mengajarkan kepada kita.
Posisi Muslimin adalah, “Kami dengar dan kami ta’at”, bukan “Kami dengar tapi sebentar, kami pikir-pikir dulu”. Perintah Allah tidak mungkin dzalim dan menyengsarakan hamba-hambaNya. Pernikahan dengan istri lebih dari satu bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan boleh tidaknya serta halal haramnya karena jelas-jelas boleh dan halal, perkara ada yang melakukannya atau tidak bukanlah menjadi prioritas utama dewasa ini.Bagi yang belum sanggup, satu saja silahkan, bagi yang sudah sanggup dua, tiga atau empat silahkan. Petunjuknya ada dan lengkap silahkan ikuti. Kalau tidak mengikuti petunjuk (Syariat Allah dan Sunnah Rasulullah, salallahu alayhi wasallam),jangankan punya istri dua, punya satu saja rasa rasanya akan menjadi satu persoalan.
Permasalahan yang lebih utama hari ini adalah riba dianggap enteng di tengah-tengah kita. Riba, yang jelas-jelas sudah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, salallahu alayhi wa salam, malah jadi tidak pernah dipersoalkan. Seorang Shaykh zaman ini, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi mengingatkan kita bahwa permasalahan yang kita alami saat ini berakar kepada riba. Kejahatan riba telah merusak segenap tatanan sosial kehidupan kita. Sebuah kutipan: Kejahatan Riba adalah dosa/ kesalahan kedua, setelah syirik, yang paling ditakuti oleh para Penduduk Madinah. Riba memiliki berbagai macam bentuk yang banyak, bunga dalam berhutang adalah salah satu dari sekian banyak penyamaran riba. Tidak berbeda dengan istilah ‘Negara Islam’, istilah kata ‘Bank Islam’ ataupun perbankan Islam(Islamic banking) tidak memiliki akar bahasa Arab bahkan ia merupakan sebuah istilah asing yang bukan bagian dari ajaran Islam dan keberadaannya bertentangan dengan syariat.
Perbankan Islam dan perbankan ‘Konvensional’ memiliki kesamaan arti, riba. Riba sistem perbankan Islam dan pinjaman ‘tanpa bunga’-nya tidak dapat disangkal lagi. Apabila pemberian modal yang dikatakan ‘bersih’ dari yang disebut sebagai perbankan tanpa bunga itu bercampur dengan sistem perbankan yang lebih besar dan dominan, makaia berkecimpung dalam proses penggandaan uang riba. Bahkan sebuah ‘bantuan’ kepada satu negara bisa jadi melibatkan rangkaian ratusan bank yang dihidupi oleh berbagai ragam pemberian modal ribawi. Lebih lengkap tentang riba bisa dilihat di The Judgement on Riba oleh seorang fuqaha Prof. Umar Ibrahim Vadillo.
Sementara waktu persoalan riba malah menjadi persoalan sepele hari ini. Sebagian orang malah menghalalkannya dengan samaran bank Islam, kartu kredit Islam, pasar modal Islam, asuransi Islam dan sebagainya.Riba dan segala kaitanya wajib kita tinggalkan, mari kembali menggunakan Dinar-Dirham sebagai alat tukar yang sesuai fitrah. Kita Muslim harus bersama dengan Amir-amir/ ulama/ fuqaha/ qadi/ Sultan-sultan,untuk kembali mendirikan pasar-pasar dan perdagangan bebas riba, sesuai dengan yang diamalkan oleh Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam. Mari kita kembali menegakkan Zakat, karena pada saat ini Zakat tidak dilaksanakan sesuai dengan rukunnya, baik dari cara pembayaran, penarikan serta pembagiannya. Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama (jamaah) sebagai Muslim, bersama-sama dalam satu barisan yang teratur dan rapat.*catatanKoin Dinar Emas dan Dirham Perak telah dicetak kembali di Nusantara sejak tahun 2000 oleh dibawah otoritas amir-amir agar dapat dipergunakan kembali oleh umat Muslim.
Islam artinya Taat kepada Allah, bukan berpikir dan berpendapat. Allah berfirman dalam al-Qur’an:”Taatlah engkau kepadaKu maka akan Kuberikan furqan”.Kita memohon kepada Allah agar dimampukan untuk berada dalam kepatuhan kepadaNya, perlindungan dari kuffar, musyrikin dan munafiqun. Kita mohon kepada Alllah agar diberikan cinta yang tulus kepada Allah dan Rasulullah, salllalahu alayhi wa salam. Kita memohon kepada Allah agar diberikan jalan (islam) yang lurus.

Diterjemahkan dari fatwa Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi
PENDAHULUAN

Allah, subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat al-Ahzab (33:57)

Dan bagi mereka yang menganiaya Allah dan RasulNya
Maka ketahuilah bahwa Allah mengutuk mereka di dunia dan akhirat.
Dia telah mempersiapkan hukuman yang memalukan bagi mereka.

Tidak ada pendapat, variasi, pengecualian mengenai persoalan di dalam Hukum Fiqh. Permasalahan ini sangat jelas dalam Deen Islam, sebagaimana yang telah diamalkan secara nyata dan jelas oleh keempat Imam kita, Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad, semoga Allah ridha terhadap mereka. Di luar dari kondisi utuh dan kuat dari benteng Shariat Islam, harus dimengerti bahwa kondisi berikut ini adalah sesuatu yang pasti dan tidak dapat dimusyawarahkan lagi, terdapat sebuah kondisi bersifat rendah yang memiliki keinginan untuk meruntuhkan Deen Islam, ini adalah tanda dari kaum kafirun. Termasuk di dalam kategori ini ada sebuah agama, yaitu Shi’ah, yang memakai jubah Islam sambil mengutuk para Khalifah Islam dan menolak ummatnya. Dan tentu saja, para Modernis, yang juga memakai jubah Islam akan tetapi pada saat yang bersamaan secara sembunyi-sembunyi menjalin hubungan kuat yang erat dengan paham skeptisme barat. Ciri-ciri mereka adalah penolakan keras terhadap Hukum Penarikan Zakat, alat tukar Islam, dan para Imam.

Yang menjadi pokok permasalahan adalah, kegagalan besar kaum kafirun untuk memahami inti dari persoalan ini. Kegagalan inilah yang merupakan dasar dari jawaban tanpa makna yang mereka berikan, dan di sisi lain, kekerasan penuh dengki yang ditujukan kepada kita. Inti dari persoalan ini adalah, bahwa kita –umat Muslim- mencintai Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam. Bagi kita persoalan ini adalah persoalan cinta. Jutaan Muslim menyanyikan Qasidah Burdah Imam Al Busairi. Begitu juga, jutaan Muslim mendawamkan Dala’il Khayrat yang disusun oleh Shaykh Jazuli. Masih ada ribuan karya lain yang menyatakan rasa cinta dan syukur kita atas kehadiran beliau, yang disusun oleh ummat Muslim selama berabad-abad.

Mari kita telaah lagi Surat al-Ahzab. Ayat di awal menjadi dasar atas keputusan hukum yang menjadi perhatian kita adalah ayat yang menyatakan keutamaan, derajat yang tinggi atas kaum yang mencintai Rasulullah, salallahu alayhi wasallam. Kita dapat melihat bahwa Allah memberikan keistimewaan kepada ummat Muslim di atas gerombolan pemuja berhala jahiliyah yang menghina Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, dan secara jelas kita lihat dalam ayat berikutnya, bahwa siapa saja yang menghina Rasulullah, salallahu alayhi wa salam juga merendahkan derajat ummat Muslim. Surat al-Ahzab (33:56-58):

Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi
Dan mintalah kedamaian dan keselamatan baginya.

Dan bagi mereka yang menganiaya Allah dan RasulNya,
Maka ketahuilah bahwa Allah mengutuk mereka di dunia dan akhirat.
Dia telah mempersiapkan hukuman yang memalukan bagi mereka.

Dan mereka yang menganiaya mu’min dan mu’minat,
padahal mereka tidak melakukan kesalahan apa pun,
maka sesungguhnya mereka telah memanggul kebohongan
dan kesalahan yang nyata.

Perbuatan-perbuatan menjengkelkan yang merupakan akibat dari insiden yang terjadi saat ini pada kenyataannya diawali oleh media yang dimiliki dan dijalankan oleh sekelompok orang yang secara militan, bahkan secara militer, menentang ummat Muslim. Orang yang kembali menyulut permasalahan ini dengan mempublikasikan kartun ini kembali di ‘France Soir’ adalah Arnault Levey. BBC TV yang dikenal sebagai media yang sering merugikan, dengan terburu-buru mengirim seorang reporter ke Mesjid Jami di London. Reporter ini adalah orang yahudi, yang secara sengaja memilih orang paling liar dan tidak dapat berbicara dengan baik untuk diwawancarai agar dunia hanya melihat sekilas bayangan saja dari persoalan ini, sebagaimana telah diperintahkan kepada sang reporter. Sebenarnya tidak sulit bagi sang reporter untuk memilih satu dari ratusan ummat Muslim yang memiliki pendidikan tinggi pada waktu shalat Jum’at, dia sebenarnya bisa dengan mudah memilih para akademisi, pengacara, atau pengusaha Muslim yang dapat memberikan gambaran lain terhadap persoalan ini. Walaupun demikian, apa yang telah dil ihat dunia adalah komunitas Muslim di segenap penjuru sedunia, yang menerima serangan hinaan yang dilancarkan oleh media, pemerintah, dan militer setiap hari. Komunitas yang telah memperlihatkan toleransi sampai ke ujung rambut ini tidak akan dapat memberikan toleransi lagi terhadap serangan yang dilancarkan kepada junjungan kita yang tercinta, Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam. Mungkin kali ini, sudah saatnya MEREKA yang harus mempraktekkan toleransi. Sebuah sikap toleransi yang memberikan kesadaran bagi mereka bahwa ada sejumlah besar komunitas yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak di dunia ini yang tidak menyembah apa yang mereka (kaffirun) sembah, dan tidak akan pernah menyembah apa yang mereka (kaffirun) sembah, sejumlah komunitas yang merupakan bagian nyata dari kehidupan. Dan jika mereka dapat menerima hal ini sesegera mungkin, keadaan akan menjadi lebih baik bagi mereka.

Betapapun anda ingin menyelami dan mengerti kemarahan dan kemurkaan dari jutaan ummat Muslim di seluruh penjuru dunia, anda harus menyadari sebuah kondisi yang harus dihadapi oleh kaum kafir. Kondisi ini adalah kemerosotan kejiwaan dan rohani yang dialami oleh bangsa Denmark, sebuah kondisi yang dialami juga oleh penduduk yang sudah hancur dan kebingungan di Uni Eropa. Jika dilihat dari sudut pandang manusia, dari sudut pandang ilmu jiwa, kondisi bangsa Denmark borjuis yang hidup dalam realitas yag dibantu oleh kekuatan finansial, sambil mengenggam lilin bodoh mereka, maka kita dapat dengan jelas melihat bahwa orang-orang ini tidak memiliki kemampuan untuk melihat bahwa di sekeliling mereka hidup sekelompok orang yang memiliki keyakinan bahwa realitas ghaib adalah hal yang lebih besar, lebih penting, bahkan merupakan persoalan hidup dan mati. Bangsa Denmark telah menyimpang jauh dari posisi Kierkegaard, seorang penulis Kristen. Mereka tidak memiliki rasa takut dan gentar terhadap Penguasa Alam Semesta, mereka hanya takut dan gentar kepada keberadaan materlialistik yang tidak bermakna. Penyalur alkohol ke seluruh penjuru dunia, terutama kepada anak-anak mereka sendiri.

Dalam menghadapai persoalan ini, terdapat juga suatu dimensi yang mana menjadi tanggung jawab kita. Saat analisa menyeluruh mengenai faktor penyebab dari kejadian ini harus kita lakukan, kondisi ini berada di luar pembatalan Hukum (Islam). Kita berkewajiban untuk melakukannya supaya kita dapat mendapatkan pandangan yang jernih terhadap persoalan ini. Bahwa ummat Muslim, yang merupakan komunitas yang berada di bawah Hukum (Islam), hanya bisa hidup di bawah kepemimpinan seorang Amir yang atas nama ummat, menjunjung tinggi dan melaksanakan Hukum (Islam) tersebut. Ketidakhadiran seorang Amirlah yang menyebabkan persoalan ini tidak dapat diselesaikan secara hukum. Akan tetapi ketidak hadiran seorang Amir bukan berarti persoalan ini ditinggalkan begitu saja. Artinya adalah, bahwa persoalan ini harus dibenahi sejalan dengan ketidakhadiran –otoritas– yang memberi perintah. Untuk memahami masalah ini secara lebih mendalam, kita akan melihat dua contoh kasus. Yang pertama adalah, tanggapan dari pemimpin ummat Muslim yang lemah. Sedangkan kedua adalah tindakan dari pemimpin non Muslim, yaitu pemimpin Shi’ah.

Saya berada di Abu Dhabi beberapa tahun yang lalu. Dan beberapa tahun sebelumnya saya menyelenggarakan Konferensi Fiqh Maliki yang dilaksanakan di Granada, Spanyol. Pada waktu itu, pimpinan Qadi dari Uni Emirat Arab, almarhum Shaykh Aal-Mubarak yang juga seorang ‘ulama Maliki yang ternama, menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah bagi Konferensi Fiqh Kedua yang akan diselenggarakan di Abu Dhabi pada tahun berikutnya. Pada acara pembukaan, sejumlah ‘ulama kenamaan ‘Amal Ahli Madinah, diantaranya Shakyh Zayed, yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden Uni Emirat Arab, memberikan ucapan selamat datang. Pada saat itu juga beliau memberikan pernyataan terbuka mengenai niatnya untuk melaksanakan pemerintahan di Uni Emirat Arab yang berlandaskan Shari’at Islam.

Pada saat saya berada di sana, sebuah surat kabar berbahasa Inggris di UEA memuat artikel yang ditulis oleh seorang doctor berkebangsaan India yang secara terang-terangan menghina Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, dan juga menghina al-Qur’an. Dengan marah, saya memperlihatkan surat kabar tersebut kepada Shaykh Aal-Mubarak. Beliau segera bertindak. Beliau memerintahkan agar artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ketika beliau membaca terjemahan artikel tersebut, beliau memastikan sebuah tindakan hukum untuk segera dijalankan. Si penulis ditangkap dan dikenai dakwaan penghinaan terhadap Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam, dan al Qur’an. Penulis ini adalah Muslim modernis, akan tetapi kemarahan yang tertuju kepadanya datang pula dari komunitas hindu yang tinggal di Emirat. Pengadilan menyatakan si penulis bersalah, akan tetapi menunda keputusan hukumnya. Pemerintah India yang memproklamirkan diri sebagai pemerintahan sekuler, walaupun pada kenyataannya menyembah, monyet, gajah dan manusia kecil berkulit biru di kuil-kuil mereka, turun tangan menggunakan alasan ‘Toleransi’ yang menjijikkan. Sebagai hasilnya, si dokter yang malang itu di pulangkan ke India sebelum keputusan hukum dapat dilaksanakan. Bahwa kemudian sang dokter kehilangan pekerjaan yang menjanjikan, gaji yang besar dan vila yang indah, bukanlah akhir yang memuaskan bagi ummat Muslim.

Ini merupakan akibat yang nyata dari kelemahan pemimpin Arab, yang tidak dapat diharapkan dapat membela kehormatan Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, karena dia mendapatkan kekuasaan yang didasari oleh sebuah kenyataan di mana dia menerima uang kertas sebagai pembayaran bagi minyak hasil bumi Abu Dhabi. Padahal, ayahnya dibunuh karena bersiteguh agar minyak bumi Abu Dhabi dibayar dengan menggunakan emas batangan.

Contoh lainnya ada pada sebuah masalah, yang tampaknya kini telah dilupakan, yang dibuat oleh seorang novelis Shi’ah berkebangsaan India. Pada saat masalah ini terjadi, posisi dari pemerintah Iran adalah “Kami adalah Muslim yang Bersatu”. Mungkin karena ingin dilihat sebagai Pembela Iman, Imam Khomeini mengeluarkan sebuah Fatwa hukuman mati bagi sang novelis. Hasilnya sudah dapat ditebak. Sesudah fatwa ini keluar, segera saja dibentuk pagar betis dan pengawalan bagi si penjahat ini, sebuah pengamanan seharga jutaan dolar yang tidak hanya menjamin keamanan dirinya tetapi juga mengangkat posisinya sebagai tokoh pujaan kaum atheis. Seperti belum cukup membuat kesalahan, pemerintahan Iran selanjutnya yang berikutnya membatalkan Fatwa tersebut. Kemudian, kembali keluar pernyataan bahwa Fatwa tersebut tetap berlaku, hanya saja belum ada keputusan untuk melaksanakannya.

Maka dapat dilihat dengan jelas contoh di atas bahwa tindakan dari Amir Shi’ah ini jauh sekali dari penerapan Fiqh Islam, dan tidak memenuhi niat yang semula dia sampaikan.

Shakyh al-Qardawi dari Ikhwan al-Muslimin menyatakan hal yang dia sebut sebagai ‘Hari Kemarahan Internasional’, ini, tentu saja, merupakan suatu hal yang tidak mempunyai arti apa-apa.

Selalu konsisten kepada posisi tradisional mereka yang memalukan, Presiden Palestina berbicara di televisi untuk mengutuk penghinaan, kemudian dia secara terburu-buru memberikan instruksi kepada rakyatnya agar menahan diri dari perbuatan kejam. Dengan kata lain, rakyat Palestina dibenarkan untuk membunuh perempuan-perempuan dan anak-anak Israel sembari mengirim anak-anak mereka sendiri untuk melakukan aksi bunuh diri guna merebut tanah yang dicuri dari mereka. Akan tetapi dalam hal memenuhi perintah untuk membela Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, mereka tidak boleh berbuat apa-apa.

Yang kita dapat pelajari dari contoh permasalahan di atas adalah tidak adanya kepemimpinan Muslim, yang dibentuk dari kepemimpinan palsu yang menyatakan diri sebagai Islam, padahal tidak demikian kenyataannya. Hal demikian ini telah menempatkan kita pada posisi yang lemah. Tidak ada keraguan apapun dalam Hukum Fiqh mengenai persoalan yang sedang kita hadapi saat ini. Tidak ada keraguan dalam bentuk apapun.

* * * * *

HUKUM

Ketetapan dai Shari’ah mengenai seseorang yang menghina atau merendahkan Rasul, QADI ‘IYAD IBN MUSA AL-YAHSUBI, salah seorang Fuqaha terkemuka dari Jalan Amal Ahli Madinah, yang merupakan ‘Umm al-Madhaib – Ibu dari Semua Madhaib (dan telah dinyatakan memiliki ketetapan hukum yang diutamakan atas semua Madhhab yang ada oleh Ibn Taymiyya dalam kitabnya), MENYATAKAN:

“Ketahuilah, barang siapa yang mengutuk Muhammad, salallahu alayhi wasallam, atau mempersalahkan beliau, atau mencari-cari kesalahan terhadap beliau, baik secara pribadi, keluarga dan keturunannya, deen beliau, atau semua sifat beliau, walaupun tidak secara langsung, dengan cara apa pun, baik itu dalam bentuk kutukan atau penghinaan atau merendahkan beliau atau merendahkan derajat beliau atau mencari-cari kesalahan beliau atau berbuat jahat terhadap beliau. Maka hukuman bagi orang yang melakukan hal-hal tersebut di atas sama dengan orang yang mengutuk beliau. Orang yang melakukan hal-hal tersebut akan dihukum mati, sebagai mana akan kami jelaskan. Keputusan hukum ini mencakup segala jenis penghinaan atau perendahaan. Kami tidak memiliki keraguan apapun mengenai persoalan ini, baik yang berupa pernyataan langsung maupun pengandaian.”

“Kondisi yang sama berlaku bagi siapa saja yang menghina beliau, menggambarkan beliau, berniat untuk mencelakakan beliau, menyatakan suatu kondisi yang tidak sesuai kondisi beliau, atau membuat lelucon atas urusan penting beliau dengan menggunakan perkataan bodoh, sindiran, perkataan yang tidak disukai atau kebohongan, mencela beliau karena penderitaan maupun ujian yang beliau alami, atau merendahkan beliau karena beliau juga mengalami kondisi alami dan diperbolehkan bagi manusia. Semua ini merupakan kesepakatan dari para ‘ulama dan imam yang mengeluarkan fatwa, sejak masa Para Sahabat sampai dengan masa kini

Abu Bakr ibn al-Mundhir meriwayatkan bahwa para ulama setuju bahwa barang siapa yang menghina Rasul akan dihukum mati. Para ‘ulama tersebut adalah Malik ibn Anas, al-Layth, Ahmad ibn Hanbal dan Ishaq ibn Rahawayh, ini juga merupakan posisi yang diambil oleh Maddhab Syafi’i. Qadi Abu’l-Fadl menjelaskan bahwa keputusan ini dilandaskan kepada pernyataan Abu Bakr as-Siddiq. Taubat dari orang yang melakukan penghinaan tidak akan diterima. Pernyataan serupa juga diutarakan oleh Abu Hanifa dan pengikutnya, ath-Thawri dan para penduduk Kufa serta al-Awza’I Muslim”. […]

“Ibn al-Qasim berkata dalam kitab ‘Utbiyya, ‘Barang siapa yang mengutuk beliau, merendahkan beliau, mencari-cari kesalahan beliau atau merendahkan serta mempermainkan beliau, akan dihukum mati.’”

“Para Fuqaha di Andalusia mengeluarkan Fatwa agar Ibn Hatim, seorang ‘alim di Toledo, dihukum mati dan disalib karena ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa Ibn Hatim mengecilkan Rasulullah, sallalahu alayhi wasallam, dia mengatakan bahwa beliau tidak bersungguh-sungguh dalam berzuhud, dan kalimat-kalimat lain yang sejenis”

“Para Fuqaha di Qayrawan (mesjid agung dan universitas Islam yang terletak di dekat Tunisia) dan para sahabat dari Sahnun mengeluarkan Fatwa untuk menghukum mati Ibrahim al-Ghazari, seorang penyair dan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Ibrahim al-Ghazari adalah salah satu dari sekelompok orang yang mendatangi Qadi Abu’l-‘Abbas ibn Talib untuk berdebat. Dia didakwa telah melakukan beberapa hal seperti menghina Allah, RasulNya dan Rasul kami. Qadi Yahya ibn ‘Umar dan para fuqaha yang lain memanggilnya dan memerintahkan agar Ibrahim al-Ghazari dihukum mati dan disalib secara terbalik. Salah seorang ahli sejarah menceritakan bahwa ketika tiang dimana Ibrahim al-Ghazari diikat diangkat, tubuhnya pun diarahkan berlawanan dengan kiblat. Ini merupakan peringatan bagi semua dan orang-orang mengumandangkan Takbir. Setelah itu, seekor anjing datang dan menjilat darah Ibrahim al-Ghazari.”

“Habib ibn Rabi’ al-Qarawi meriwayatkan bahwa Maddhab Malik beserta sahabatnya (maksudnya adalah Maddhab Ahli Madinah) menyatakan bahwa barang siapa yang menghina Rasul akan dihukum mati tanpa diizinkan untuk bertaubat”

“Kami telah meriwayatkan kesepakatannya. Adapun mengenai tradisinya, al-Husayn ibn ‘Ali meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda mengenai hal ini, ‘Barang siapa yang menghina Rasul, maka berilah dia hukuman mati. Barang siapa menghina Para Sahabatku, maka pukullah dia.’ Riwayat ini dapat ditemukan di at-Tabarani dan ad-Daraqutni.”

“Dalam sebuah hadist shahih, Rasul memerintahkan agar Ka’b ibn al-Ashraf dihukum mati. Beliau bertanya, ‘Siapa yang akan mengurus Ka’b ibn al-Ashraf? Dia telah mencelakakan Allah dan RasulNya.’ Beliau mengirim seseorang untuk membunuh Ka’b tanpa memberikan kesempatan untuk bertaubat, sebuah keputusan yang membedakan dengan para musyrikun lainnya. Sebab dari kejadian ini adalah perlakuan Ka’b yang mencelakakan Nabi. Ini menunjukkan bahwa Rasul memerintahkan agar Ka’b dihukum mati karena telah melakukan hal lain selain syirik. Ka’b telah melakukan hal yang menyebabkan celaka.”

“Dalam hadist lainnya mengenai seseorang yang selalu menghina Rasul, Rasul berkata, ‘Siapa yang akan membelaku dari musuhku?’ Khalid menjawab,’Aku akan melakukannya,’ maka Rasul mengirimnya untuk membunuh orang tersebut.

Sangat penting untuk dimengerti bahwa ketika Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, membunuh para musuh-musuh ini, beliau melakukannya untuk membela dan melindungi Wahyu, serta kewajiban beliau untuk melindungi dirinya agar dapat memenuhi tugas beliau. Kini, di bawah cahaya hadist, kita dapat memahami kesalahan besar yang dilakukan oleh Khomeini ketika mengeluarkan Fatwanya. Seorang Amir memiliki kewajiban untuk segera mengeluarkan Fatwa untuk melndungi Muminun, akan tetapi kita dapat melihat adanya perbedaan antara membahayakan ummat Muminun dengan serangan terhadap Rasul, salallahu alayhi wasallam. Serangan terhadap beliau berarti serangan terhadap Rasul yang ditunjuk oleh Allah sekaligus merupakan serangan terhadap keberadaan Wahyu itu sendiri. Oleh karenanya para ‘ulama kita membedakan serangan ini dari bentuk serangan lainnya. Dalam sebuah hadist shahih, Rasul bersabda, ‘Strategi merupakan bagian dari perang.’ Maka kita dapat menyimpulkan bahwa dalam kondisi dimana terjadi serangan langsung dalam bentuk penghinaan terhadap Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, sebuah strategi wajib disiapkan guna menjamin keberhasilan menumpas musuh. Berdasarkan pernyataan ini, si pelaku harus diidentifikasi. Seorang atau sekelompok algojo kemudian ditugaskan untuk memenuhi perintah hukuman mati. Setelah tugas dan hukuman mati selesai dilaksanakan, barulah perintah hukuman mati diumumkan kepada masyarakat, sebagai peringatan bagi yang ingin melakukan hal yang serupa. Kegagalan Khomeini adalah ketika dia mengumumkan Fatwa sebelum pelaksanaan hukuman mati, kondisi ini yang menyebabkan Fatwa tersebut tidak berarti apa-apa. Ada kemungkinan bahwa inilah tujuan sebenarnya dari Fatwa Khomeini itu.

“Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Barza as-Aslami dijelaskan, ‘Suatu hari aku sedang duduk bersama dengan Abu Bakr as-Siddiq dan dia marah kepada salah seorang laki-laki Muslim.’ Orang itu telah menghina Abu Bakr. An-Nasa’I kemudian menghampiri Abu Bakr dan berkata, ‘Khalifah Allah, izinkan aku memenggal kepalanya!’ Abu Bakr berkata, ‘Duduklah. Tindakan tersebut hanya diperuntukkan bagi orang yang menghina Rasulullah, salallahu alayhi wasallam.’”

“Qadi Abu Muhammad ibn Nasir berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan beliau.’ Jadi para Imam sepakat untuk menjadikan ini sebagai bukti bahwa siapa pun yang menghina, mencelakakan dan mengakibatkan kemarahan Rasul dengan cara apapun akan dihukum mati.”

“Ada riwawat mengenai surat ‘Umar ibn ‘Abdu’l-‘Aziz kepada gubernurnya di Kufa. Sang gubernur meminta saran mengenai tindakan yang perlu diambil atas seseorang yang menghina ‘Umar. ‘Umar menuliskan surat balasan yang isinya, ‘Tidak sah hukumnya untuk membunuh seorang Muslim yang melakukan penghinaan, kecuali jika dia menghina Rasulullah. Barang siapa yang menghina beliau, darahnya halal untuk ditumpahkan.’”

Pada titik ini, Qadi ‘Iyad memberikan sebuah kesimpulan penting: “Siapa saja yang menghina atau merendahkan Rasul memiliki penyakit di dalam hatinya.”

Para ‘ulama telah menetapkan bahwa ketetapan hukum ini berlaku kepada setiap Muslim, kaum Dhimmi, yaitu orang-orang yang hidup di bawah perlindungan Muslim, dan kaum kafirun. Semuanya memiliki kewajiban untuk memenuhi ketetapan hukum ini.

“Dalam ‘Kitab Muhammad’, para sahabat Malik mengatakan kepada kami bahwa beliau berkata barang siapa menghina Rasulullah, atau Rasul yang lain, baik Muslim maupun kafir, akan dihukum mati tanpa diberi kesempatan untuk bertaubat. Ibn Wahb meriwayatkan dari Ibn ‘Umar, bahwa seorang pendeta melakukan penghinaan secara lisan terhadap Rasul, salallahu alayhi wasallam. Ibn ‘Umar bertanya, ‘Kenapa engkau tidak membunuhnya?’”

“Dalam kitab ‘An-Nawadir’, yang ditulis oleh Ibn Abi Zaid al-Qayrawani, yang juga menyusun kitab ‘Risala’ yang ternama, dari Sahnun, dari Malik, kami menyaksikan bahwa setiap orang yahudi dan nasrani yang merendahkan Rasulullah, salallahu alayhi wasallam, dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh kaum yahudi dan nasrani ketika menolak beliau akan dipenggal kecuali mereka menjadi Muslim.”

Muhammad ibn Sahnun berkata, walaupun seseorang berkata bahwa menghina Rasul merupakan bagian dari agamanya, yang artinya hal ini merupakan hal yang diperbolehkan oleh agamanya, hal seperti ini tidak ada bedanya bagi kita. Jika orang ini secara terbuka menghina Rasul kita, salallahu alayhi wasallam, maka agama kita memberi justifikasi hukum dan membolehkan kita untuk membunuhnya. Inilah inti persoalan yang tidak dapat dihindari dari persoalan saat ini. Kaum kafirun yang arogan harus mengerti bahwa dunia ini dihuni oleh dua milyar jiwa yang memiliki ketentuan Hukum yang berbeda dengan mereka, dan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari Hukum tersebut, karena ketika hukum milik kafirun bersumber pada rasa takut, hukum milik kita bersumber pada rasa cinta. Qadi ‘Iyad memberikan sebuah riwayat yang menarik dari Malik yang dapat mewakili secara tepat perasaan jutaan ummat Muslim di seluruh penjuru dunia yang sangat terganggu oleh persoalan ini.

“Ibn al-Qasim meriwayatkan bahwa Malik ditanya mengenai seorang nasrani di Mesir yang terbukti telah menghina Rasulullah, salallahu alayhi wasallam. Bukti-buktinya sangat kuat. Mereka bertanya apakah sebaiknya dia dihukum mati supaya masyarakat mendapatkan keselamatan dari gangguannya? Pada akhirnya Malik memutuskan agar orang itu dipenggal. Setelah memberikan ketetapan, Imam Malik menambahkan, ‘Saya hampir saja tidak memberikan pernyataan apapun mengenai hal ini, tapi kemudian saya menyadari bahwa saya tidak dapat berdiam diri.’”

* * * * *

Hukum Fiqh sangat jelas. Tidak ada perdebatan. Tidak boleh ada pendapat. Keputusannya adalah bahwa kaum kafirun harus menyadari bahwa kita ada, dan kita tidak akan memberikan toleransi apapun jika hal yang suci bagi kita dinodai. Kaum kafirun harus menyadari – mungkin jika mereka cerdas, mereka akan menyadari dengan terkejut – mereka tidak akan merasakan hal yang sama, karena mereka berada di luar lingkaran orang-orang yang mencintai Allah dan RasulNya, salallahu alayhi wasallam.

Orang-orang tanpa harga diri yang penuh dengan kesombongan, yang selalu mengagung-agungkan kebebasan berbicara – yang tidak lain merupakan khayalan belaka – harus mendinginkan kepala mereka. Kita (Muslim) bukanlah sekelompok orang-orang bodoh. Kita tahu, dan sebenarnya mereka juga tahu, bahwa tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada yang namanya kebebasan berbicara. Mulai dari Kalifornia sampai ke pegunungan Carphatia, jika anda mengatakan bahwa sebenarnya tidak pernah ada pemusnahan etnis yang dilakukan oleh Nazi, anda akan dimasukkan ke dalam penjara. Bangsa Eropa pernah memasukkan orang-orang yang mengutarakan ide tidak masuk akal yang menyatakan bahwa bumi itu datar. Mungkin surat kabar di Denmark perlu mengadakan kompetisi kartun terbaik mengenai Auschwitz, hanya untuk melihat apakah yang mereka anggap baik juga dapat dianggap baik untuk kita?

Ada sebuah pendapat yang kuat bahwa permasalahan ini sengaja ditiupkan kembali di Perancis agar dapat menarik perhatian terhadap masalah gawat yang terjadi di Israel, dimana masyarakatnya berkumpul tanpa daya mengelilingi jasad beku seorang jendral tua yang telah meninggalkan mereka tanpa figur seorang pemimpin. Persoalan ini belumlah selesai. Pemerintahan kafir yang lemah dan secara aneh tidak melakukan hal apa pun harus disarankan untuk menghentikan gonggongan anjing-anjing mereka. Pemerintahan di negara-negara Muslim, yang bertanggung jawab terhadap permasalahan ini sejak awal, disarankan untuk memperhatikan nasihat Ibn Khaldun yang diilhami Qur’an, karena pada akhirnya mereka akan lenyap juga.

Allah subhanahu wata’ala, berfirman dalam Surat al-Kafirun (109:1-6):

Dengan menyebut nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah: Hai orang-orang kafir!
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
Dan kamu tidak akan menyembah apa yang aku sembah
Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
Dan kamu tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah.
Untukmulah deenmu, dan untukkulah deenku.

Almanak

Oktober 2018
S S R K J S M
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Dinar Dirham Hari Ini

1 Dinar (Emas)
Rp. 1.380.490

1 Khamsa (Perak)
Rp. 145.072

sumber: wakalanusantara.com

kontak kang abdarrahman

ym: rrachadi
gtalk: rachadi
skype: abdarrahmanrachadi
rrachadi@yahoo.com

Blog Stats

  • 1.958 hits

Laman

Iklan