You are currently browsing the category archive for the ‘jalan’ category.

Pagi ini saya mengalami rangkaian kejadian yang mengharuskan saya ‘kehilangan’ beberapa hal. Saat saya berkata belajarlah ikhlas maka ada yang bilang ini karena saya tidak pernah belajar dari kesalahan, ada yang bilang saya belum bisa ikhlas karena kebanyakan belajar, tidak pernah ‘action’ -menerapkan- ikhlas, ada yang mendoakan agar saya bisa mendapatkannya, ada yang mendorong untuk terus belajar.

Dalam satu kalamNya, Allah subhanahu wa ta’ala, mengajarkan kita agar mencapai satu tingkatan dimana ketika ketika ‘melempar batu’ maka sesungguhnya bukan tangan kita yang melempar, ketika kita ‘berbicara’ maka sesungguhnya bukan kita yang berbicara. Saya tidak akan menafsirkan ayat ini karena pertama dan terakhir, saya bukan mufassir. Yang hendak saya bagi kepada pembaca budiman adalah, pengalaman saya dalam memahami ayat ini.

Anda mungkin bertanya, ‘Apa hubungannya dengan ikhlas dan restorasi muamalah?’

Dalam apa yang saya alami, hubungan ayat Allah, subhanahu wa ta’ala tersebut terkait erat dengan apa yang kita, atau setidaknya, saya lakukan. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir ini, saya terlibat dengan satu gerakan global pengembalian rukun zakat dan muamalah. Dalam kurun waktu tersebut, saya bertemu banyak orang, belajar banyak hal dan membuat banyak kesalahan. Percaya atau tidak, saya memang sedang belajar, meski saya mengulangi kesalahan dan membuat kesalahan baru. Salah satu ‘materi pelajaran’ yang sering saya renungkan, dan coba terapkan adalah:

‘Apakah yang saya lakukan dalam gerakan ini murni karena Allah, atau karena ciptaanNya?’
‘Apakah saya ikhlas atau ingin berharap balas?’
‘Apakah saya ingin dipandang atau justru ingin menghilang?’
dan seterusnya, dan seterusnya…

Jujur, pembaca yang budiman, saya belum tahu jawabannya.

Dinar dan Dirham hanyalah satu komponen bagi kembalinya Rukun Zakat dan muamalah. Keberadaan kedua koin tersebut vital bagi tegaknya Islam karena keduanya merupakan bagian dari ketentuan Rukun Zakat. Akan tetapi, kilauan Dinar dan Dirham dapat menjadi begitu menyilaukan, membuai indera. Mungkin karena hal itu pula, banyak yang kemudian terpesona olehnya dan lupa kepada tujuan awal dan akhirnya. Yang jelas, bagi saya keberadaan koin-koin ini memberikan jalan bagi saya untuk memahami ayat di atas, serta memberikan wahana bagi saya untuk belajar ikhlas dalam menjalani tugas serta kehidupan saya.

Imam Junayd, semoga Allah merahmatinya berkata:
‘Sekiranya keridhaan Allah kepada saya adalah menjadikan saya sebagai cacing, maka jadi cacinglah saya’

Para sufi memohon kepadaNya:
‘Ya Rabb, jadikanlah aku layaknya semut hitam, yang berjalan di atas batu hitam yang ditaruh di ruangan gelap tak bercahaya, saat malam kelam tak berbintang dan tanpa rembulan’

Mengingat doa para arifin ini:

Saya hanya bisa melangkah dan melafazkan berulang Nama Allah.
Saya takut semisalnya saya riya’ dan haus akan harta
Saya takut terjerembab dan membawa angkara
Saya berharap dan memohon diberi pemahaman serta kemampuan bertanggung jawab atas seluruh tindakan saya.
Saya berharap diberikan ikhlas dan sabar, meski saya harus menghabiskan seluruh hidup saya untuk mendapatkannya

Semoga Allah menganugrahkan ikhlas kepada anda dan keluarga
Aamiin Ya Rabbal Alamin

Iklan

Secrets are, the language of all lovers…
as you spend a lifetime unveils the hidden meaning
The Truth reveals it self,
when you least expected it…

–Depok 19032012–

20120324-205049.jpg

Facing the Green Turban, i tremble
as from his glance alone,
the Face of the Beloved shone…

–Depok 190312–

I dream of sailing, in the middle of sands ocean,
glittering golden grain of
ever changing waves sways the boat away
as helpless as i’m, under million of stars
longing for your warm embrace…

–cinere200312–

20120324-204450.jpg

O Allah…
We ask for forgiveness and permission
To raise Your banner and the banner of Your Beloved, sallalahu alayhi wa sallam

O Allah…
We ask for protection from our self
Let all our doing is Yours alone,
That there will be nothing for us except You,
which is always be enough for us.

O Allah…
Protect all Muslimin and Muslimat
You have made trade halal for us,
and make riba haram for us.
Please make it easy for us, to follow your Shariah and the Sunnah of Rasul, sallalahu alayhi wa sallam.

O Allah…
You are our only Fortress,
and it is always, always be enough for us
When You say: ‘Be, it is!’
You have completed our affairs…

Amin…

Beberapa waktu yang lalu, seorang kerabat dekat saya anfaal. Bukan main-main karena kerabat saya tersebut menderita gagal ginjal, yang mengharuskan dia untuk cuci darah 2 kali dalam seminggu. Pada saat kejadian, kerabat saya, naik tensinya sehingga dalam sehari dia anfaal lebih dari 8 kali.

Di tengah-tengah seriusnya (kalau tidak boleh dibilang gawat) kondisi kerabat saya ini, hal utama bagi pihak Pengusaha RS (2 RS ‘Pemerintah’ dan 1 RS swasta, dokter dan stafnya) bukanlah kondisi pasien, akan tetapi lebih kepada apakah kami mampu membayar obat dan jasa RS!!! Bayangkan, kerabat saya terbaring kejang dan hal pertama yang dilakukan dokter adalah menulis resep obat dan meminta kami untuk membelinya lebih dahulu.

Betapa menyedihkan, di tengah-tengah negeri Muslim terbesar di dunia, nyawa manusia menjadi nomor dua, tiga atau empat. Apa yang menyebabkan hal seperti ini bisa terjadi di Nusantara dan di perbagai penjuru dunia? Apa yang menyebabkan harga obat mahal? Bagaimana fungsi sosial dan pelayanan RS berubah menjadi tak lebih dari perpanjangan industri farmasi dan peralatan kesehatan? Dan yang lebih parah, manusia tidak lagi memiliki empati terhadap sesamanya.

Seorang ulama zaman ini, Shaykh Dr. Abdalqadir as Sufi, mengatakan bahwa masalah pada saat ini adalah Riba. Riba secara harfiah berarti “kelebihan” dalam bahasa Arab. Qadi Abu Bakar ibnu al-Arabi, dalam karyanya ‘Ahkamul Qur’an’ memberi definisi sebagai: ‘Setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan).’ Kelebihan ini mengacu pada dua hal:

  1. Tambahan keuntungan yang berasal dari peningkatan yang tidak dapat dibenarkan dalam bobot maupun ukuran, dan
  2. Tambahan keuntungan yang berasal dari penundaan (waktu) yang tidak dibenarkan.

Dua aspek ini telah mendorong para ulama kita mendefinisikan dua jenis riba. Ibnu Rusydi mengatakan :
‘Para hakim secara ijma menyepakati tentang riba dalam buyu’ (perdagangan) dalam dua jenis: penundaan (nasi’ah) dan kelebihan yang ditentukan (tafadul).’
Jadi, ada dua jenis riba:

1. Riba al-fadl (kelebihan dari surplus)
2. Riba an-nasiah (kelebihan karena penundaan)

Riba al-fadl mengacu pada kuantitas. Riba an-nasiah mengacu pada penundaan waktu. Riba al-fadl sangat mudah untuk dipahami. Dalam peminjaman, riba al-fadl merupakan bunga yang harus dibayar. Namun pada umumnya riba ini mewakili peningkatan tambahan terhadap nilai tanding yang diminta oleh satu pihak. Satu pihak memberi sesuatu seharga 100 sebagai tukaran sesuatu yang senilai 110. Kasus ini juga diharamkan karena di dalamnya ada dua transaksi yang dikaitkan dengan satu kontrak tunggal (dikenal dengan ‘dua transaksi dalam satu kontrak’), di dalamnya satu pihak diharuskan menjual sesuatu dengan harga satu harga dan menjualnya kembali setelah beberapa saat kepada penjual semula dengan nilai yang lebih murah. Sesungguhnya, ini hanya merupakan akal-akalan untuk menyelubungi pinjaman berbunga dengan topeng dagang. Tak ada seorang pun yang memerlukan akal-akalan ini dewasa ini karena kita dapat langsung meminjam pada bank. Tetapi bank-bank Islam telah memanfaatkan muslihat lama ini guna mengecoh nasabah mereka dengan nama yang sengaja disalah artikan sebagai ‘murabahah’.

Memahami riba an-nasiah lebih rumit. Riba ini merupakan kelebihan dalam waktu (penundaan) yang secara artifisial ditambahkan pada transaksi yang berlangsung. Penundaan ini tidak dibolehkan. Hal ini mengacu pada milik (‘ayn) dan bukan-milik (dayn) medium pembayaran (emas, perak dan bahan makanan – yang digunakan sebagai uang). ‘Ayn merupakan barang dagangan yang nyata, sering disebut sebagai tunai. Dayn merupakan janji untuk membayar atau hutang, atau apa saja yang pembayarannya atau pelunasannya ditunda. Menukar (safar) dayn untuk ‘ayn dari genus yang sama disebut riba an-nasiah. Menukar dayn untuk dayn juga haram. Dalam penukaran, yang boleh dipertukarkan hanya ‘ayn untuk ‘ayn.

Hal ini didukung oleh banyak hadits dalam perkara ini. Imam Malik meriwayatkan:

‘Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik bahwa dia mendengar bahwa al-Qasim ibnu Muhammad mengatakan, “Umar ibn al-Khattab mengatakan, ‘Satu dinar untuk satu dinar, dan satu dirham untuk satu dirham, dan satu sha’ untuk satu sha’. Sesuatu yang dikumpulkan kemudian tidak untuk dijual untuk sesuatu yang ada di tangan saat ini.’”

Lebih lanjut mengenai riba dapat dilihat dalam tulisan Prof. Umar Ibrahim Vadillo, seorang Muslim Eropa yang juga seorang fuqaha dan alim, yang berjudul Understanding Riba.

Riba inilah yang menjadi sumber bagi setiap masalah yang kita hadapi dewasa ini. Inflasi uang kertas yang tidak berkesudahan, tingginya biaya hidup (masuk akalkah biaya pendidikan TK seharga Rp. 40 juta setahun?), lelaki dan wanita tercerabut dari fitrahnya (hidup untuk bekerja, bukan untuk beribadah kepada Allah), kerusakan alam oleh industri (yang mau tidak mau harus berpacu untuk menutupi bunga yang dipinjam dari bank), sampai kepada kemacetan di kota Jakarta.

Apa jalan keluarnya?
Mari bersama-sama kembali mematuhi perintah Allah dan Sunnah Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam.

Allah bersabda dalam Al-Quran dalam surat Al-Baqarah:

“Allah telah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba”

Islam adalah Deen al Fitrah, dan Allah telah menyempurnakan dan ridha kepadanya. Artinya seluruh transaksi hidup kita, mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi telah diperlengkapi tata cara dan amalannya.

Contoh ‘amal yang sempurna ada dalam diri Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam. Sebagaimana Sayyidah Aisha, radiyallahu anha menjelaskan ketika ada salah orang sahabat bertanya seperti apakah Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam itu. Sayyidah Aisha, radiyallahu anha menjawab, “Beliau seperti Qur’an yang berjalan”.

Salah satu Syariat Islam dan bagian dari Sunnah Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam adalah menggunakan koin Dinar emas dan Dirham perak dalam perniagaan, dan lebih penting lagi adalah dalam hal menjalankan salah satu dari Rukun Islam, yaitu menunaikan Zakat Mal.

Koin Dinar Emas dan Dirham Perak sudah dicetak kembali sejak tahun 1992 di Granada, Spanyol oleh Prof. Umar Ibrahim Vadillo, seorang ulama dan fuqaha di Eropa yang merupakan murid dari Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi. Sejak tahun 2000, umat Muslim di Nusantara sudah dapat kembali mendapatkan dan menggunakan Dinar Emas dan Dirham Perak untuk membayarkan Zakat Mal, mahar pernikahan, tabungan dan untuk perdagangan perniagaan.

Umat Muslim bisa kembali mendapatkan Dinar Emas dan Dirham Perak di Wakala Dinar Dirham, baik di Jakarta, Bandung dan Jogjakarta. Dengan kembali menggunakan Dinar Emas dan Dirham Perak kita, umat Muslim, telah secara aktif mulai mengambil langkah awal dalam meninggalkan riba. Kita, umat Muslim secara bersama-sama kembali menegakkan yang Halal dan meninggalkan yang haram.

Semoga Allah mengembalikan Deen Islam secara utuh di Nusantara dan segenap penjuru dunia.

Kita mohon kepada Allah agar diberikan jalan yang lurus yang jauh dari marabahaya dan keingkaran.

Kita mohon kepada Allah agar diberikan rezeki yang halal dan jauh dari Riba

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam beserta seluruh kerabat dan keluarganya.

It is told of a Sufi who was in his khalwa in a cave in the mountains calling on Allah and calling on Allah, and suddenly there appeared before him a ravenous, slavering, savage wolf with its tongue hanging out, about to attack him.

He drew his sword and cut its head off. When he cut its head off, the creature became twice as big, so he cut its head off again and it became a monster!

Then he understood. He said, ‘I seek protection in Allah from myself’ and he turned his back on it and it vanished. Then he began his inward journey to Allah, subhanahu wa ta’ala….

Taken from Sayyidi Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi Moussem Discourse – Cape Town 2004

Allah! Allah! Allah!

Almanak

Desember 2018
S S R K J S M
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Dinar Dirham Hari Ini

1 Dinar (Emas)
Rp. 1.380.490

1 Khamsa (Perak)
Rp. 145.072

sumber: wakalanusantara.com

kontak kang abdarrahman

ym: rrachadi
gtalk: rachadi
skype: abdarrahmanrachadi
rrachadi@yahoo.com

Blog Stats

  • 1.967 hits

Laman

Iklan