You are currently browsing the category archive for the ‘oh jakartaku’ category.

gudeg.jpg
Memang pas sedang lapar-laparnya pagi ini kita sarapan di Warung Gudeg Bu Hani. Persis di seberang Hero Mampang, warungnya ada di pojokan, kecil tapi bersih. Warung buka dari jam 07.00 sampai 18.00, bisa terima pesanan juga. Saya dan istri langsung pesan gudeg, krecek (kerupuk kulit yang dimasak), telur disiram dengan kuah kental dengan sambal dan condiment cabe rawit, Masya Allah…

Makan bukan sekedar makan, begitu pula masakannya.Ada yang makan sekedar makan, ada yang makan karena lapar, ada yang tidak mau makan sama sekali –supaya BMInya tetap dalam standar para model 😀– tanpa kita sadar sering kita makan taken for granted.

Sering pula kita makan berkawan nafsu kita, bisa-bisa tebaran piring di resto Sederhana habis seorang diri.Jadi bagaimana makan yang baik itu? Makan banyak, sedang atau sedikit, sedikit tapi banyak? Hampir semua panduan tentang makan, ujung-ujungnya malah mengusung nafsu dari segi yang lain. Bagaimana baiknya? Salallahu alayhi wa sallam, selalu makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Lalu bagaimana makanan yang baik itu? Makanan yang dibuat dengan cinta, dengan segenap perasaan pembuatnya. Kembali ke gudeg, sarapan pagi ini mengingatkan saya pada masakan ibu saya (walaupun yang dimasaknya bukan gudeg), tetapi dalam hal membuat makanan dengan cinta (soal ini juga gudeg bu hani tetap kalah dengan ibu saya). Akan tetapi dalam gudeg ini terasa sekali pembuatnya memasak dengan cinta, kuah yang kental, bumbu yang kaya, pelayanan yang ramah…

Sepiring gudeg pagi ini mengingatkan saya kepada betapa semua telah diatur dengan sangat sempurna, betapa semua orkestra telur, nangka, cabai, kulit dan bumbu telah disiapkan oleh Allah khusus untuk kami makan pagi ini. Alhamdulillah wa shukrulillah

Warung Gudeg Bu Hani
Jl. Buncit Raya No. 42
021 7919 9065

Iklan

Yesterday was one of the fine example of Jakarta’s Finest. On one Thursday evening, my dear friend of mine and my self caught in a series of what we called ‘loong weekend’s eve” frenzy.

Imagine…
2 HOURS of leg and butt cramped, only from Ratu Plaza to Kemang (just around 4 kilos straight road) not to mention sweet smell of tar and CO. And we both wonder that in this madness, the solution is quite simple: LEADERSHIP

Traffic jam, along with corruption, is not culture ladies and gentlemen, it is merely a simple problem with a simple solution.
Now, leadership is part of our fitrah as human. Now this fitrah bring us to condition that, if one is not the leader, one will be the one who is being lead.

In this age, some people tends to think that leadership is equal with government official, policeman, general, honorable member of people’s council etcetera etcetera etcetera.

But in reality it is not!

Leadership means to protect, to serve, to be humble, to lead, to get you from point A to B.
Leadership is being obey and obeyed.
Leadership is to obey Allah and Rasulullah, salallahu alayhi wa salam

Without it one will never be a leader, one will simply ends up being a ruler. In a car seat (another dear friend of mine simply called it: a stove), we sat, we wonder, and we drove by.

We ask Allah to bring a true leader amongst us…

Almanak

Oktober 2018
S S R K J S M
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Dinar Dirham Hari Ini

1 Dinar (Emas)
Rp. 1.380.490

1 Khamsa (Perak)
Rp. 145.072

sumber: wakalanusantara.com

kontak kang abdarrahman

ym: rrachadi
gtalk: rachadi
skype: abdarrahmanrachadi
rrachadi@yahoo.com

Blog Stats

  • 1.958 hits

Laman

Iklan