Seri Tulisan Pendek USURA CONTRA NATURAM, 19 Juli 2011

Teror dan Terorisme

20110719-115244.jpgBaru saja selesai menyimak acara TV mengenai teror dan terorisme. Seru, rame dan lucu diselingi oleh ‘breaking news/ interview salah satu bintang sinetron politik yang tengah bersembunyi’. Jangan kita lupa bahwa benih terorisme modern adalah hal yang krusial bagi hidupnya sistem finansial ribawi dan industri penyokongnya, demokrasi.

Revolusi Perancis yang digadang gadang sebagai mata air demokrasi lahir sebagai justifikasi pengambil alihan kekuasaan yang dimiliki oleh kelas monarki yang direbut oleh kelas bankir. Apa instrumennya? Teror, teror dan teror.

Demokrasi dan sistem finansial ribawi dibangun oleh guillotine dan genosida. Tidak percaya? Lihat apa yang terjadi di La Vendee tahun 1790-an. Masih tidak percaya? Lihat apa yang terjadi di Perang Minyak yang dimulai sejak tahun 1990-an

Bacaan wajib: Technique of the Coup de Banque

Iklan

O Allah…
We ask for forgiveness and permission
To raise Your banner and the banner of Your Beloved, sallalahu alayhi wa sallam

O Allah…
We ask for protection from our self
Let all our doing is Yours alone,
That there will be nothing for us except You,
which is always be enough for us.

O Allah…
Protect all Muslimin and Muslimat
You have made trade halal for us,
and make riba haram for us.
Please make it easy for us, to follow your Shariah and the Sunnah of Rasul, sallalahu alayhi wa sallam.

O Allah…
You are our only Fortress,
and it is always, always be enough for us
When You say: ‘Be, it is!’
You have completed our affairs…

Amin…

where are you my love?
i’ve been looking, no, searching
through all these years
just a glimpse of you, would make me content

they says that you walk pass this market,
through silent murmurs and lowering gaze
i can’t see you, yet the trace of your perfume drive me insane –
all those glittering silver and gold only bears the mark of your beauty,
yet it is not you!

where are you my love?
i’ve been crying, no, weeping
from fear that you might not heed me,
yet hoping that soothing hand will lulled me away

they says you waved from the balcony of these city walls,
it’s narrow ends and mazed corners
i can’t find you, yet within these buzzing streets i can heard you sang,
those towering buildings and grand palaces only mirrors your majesty,
yet it is not you!

where are you my love?
these longing, no, yearning
comforting and yet obliterating
remnants of my heart crumbling still

…I pass by these walls, the walls of Layla
And I kiss this wall and that wall
It’s not Love of the houses that has taken my heart
But of the One who dwells in those houses…

taken from layla & majnun

bigboys.jpg

By Hajj Abdallah Luongo

Achmed Sukarno was a populist leader and founder of modern Indonesia. He also founded the non-aligned movement of developing countries to create a ‘third way’ between the then two superpowers. In 1955 he convened the Asia-Africa Conference where the leaders of the developing world (the majority of mankind) met to forge their common interests. Alarms went off as his initiative demonstrated a powerful potential in opposition to the boundless aspirations of the proponents of a “free market economy.”

The 1963 formation of the Malaysian Federation was criticised by Sukarno as a neo-colonial plot to further British commercial interest in the region. A declassified British Foreign Office report from 1964 called for the ‘defence’ of western interests in South-East Asia as “the region produced nearly 85% of the world’s natural rubber, over 45% of the tin, 65% of the copra and 23% of the chromium ore.” More stridently, from a CIA memorandum two years earlier, Prime Minister Harold Macmillan and President John Kennedy had agreed to “liquidate President Sukarno, depending on the situation and available opportunities”.

Read the complete article at: http://robertluongo.blogspot.com/2007/11/indonesian-model.html

It is my honor to introduce Hajj Abdallah Luongo. This is taken from his site:

Hajj Luongo teaches Language and Rhetoric at Dallas College in Cape Town South Africa where he is delving into Shakespeare’s political plays: The History Plays,Roman Plays and Hamlet (and the Scottish Succession).

He is the author of The Gold Thread: Ezra Pounds Principles of Good Government & Sound Money, as well as numerous articles and essays.He was born in 1949 in Boston and grew up in New England. In 1970 while visiting California he met the Scottish writer Ian Dallas, who is most well known the world over as Shaykh Abdalqadir as-Sufi, and embraced Islam.

In 1975 he travelled to Mecca and performed the ancient rites of Pilgrimage known as the Hajj.Robert Luongo’s future projects include the publication of his Lectures on Shakespeare’s Political Plays and Selected Poetry and Prose .

Visit Hajj Luongo’s blog at: robertluongo.blogspot.com 

I’m not interested in preserving the status quo;I want to overthrow it.

Niccolo Machiavelli

generale.jpg
woe…woe…woe…the general has passed,
what shall we do?

has all the sins been cleansed,
old debts settled, grief & hatred mended?

woe…true indeed, the general has passed,
still, people ask; what shall we do? 

gudeg.jpg
Memang pas sedang lapar-laparnya pagi ini kita sarapan di Warung Gudeg Bu Hani. Persis di seberang Hero Mampang, warungnya ada di pojokan, kecil tapi bersih. Warung buka dari jam 07.00 sampai 18.00, bisa terima pesanan juga. Saya dan istri langsung pesan gudeg, krecek (kerupuk kulit yang dimasak), telur disiram dengan kuah kental dengan sambal dan condiment cabe rawit, Masya Allah…

Makan bukan sekedar makan, begitu pula masakannya.Ada yang makan sekedar makan, ada yang makan karena lapar, ada yang tidak mau makan sama sekali –supaya BMInya tetap dalam standar para model 😀– tanpa kita sadar sering kita makan taken for granted.

Sering pula kita makan berkawan nafsu kita, bisa-bisa tebaran piring di resto Sederhana habis seorang diri.Jadi bagaimana makan yang baik itu? Makan banyak, sedang atau sedikit, sedikit tapi banyak? Hampir semua panduan tentang makan, ujung-ujungnya malah mengusung nafsu dari segi yang lain. Bagaimana baiknya? Salallahu alayhi wa sallam, selalu makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Lalu bagaimana makanan yang baik itu? Makanan yang dibuat dengan cinta, dengan segenap perasaan pembuatnya. Kembali ke gudeg, sarapan pagi ini mengingatkan saya pada masakan ibu saya (walaupun yang dimasaknya bukan gudeg), tetapi dalam hal membuat makanan dengan cinta (soal ini juga gudeg bu hani tetap kalah dengan ibu saya). Akan tetapi dalam gudeg ini terasa sekali pembuatnya memasak dengan cinta, kuah yang kental, bumbu yang kaya, pelayanan yang ramah…

Sepiring gudeg pagi ini mengingatkan saya kepada betapa semua telah diatur dengan sangat sempurna, betapa semua orkestra telur, nangka, cabai, kulit dan bumbu telah disiapkan oleh Allah khusus untuk kami makan pagi ini. Alhamdulillah wa shukrulillah

Warung Gudeg Bu Hani
Jl. Buncit Raya No. 42
021 7919 9065

Bismillah…

Kejadian-kejadian beserta komentar-komentar yang sudah kelewat batas mengenai pernikahan akhir-akhir ini, memuakkan!. Orang umum (awam) dan orang bodoh (ignorances) berterusan menulis, berpendapat tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. (sungguh sebenarnya tidak ada pendapat dalam Deen Islam),berdemo dan MELAWAN serta MENENTANG sesuatu yang sudah dihalalkan oleh Allah dan diamalkan oleh Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam beserta umat yang mengikuti beliau.
Pernikahan, baik dengan satu istri sampai empat istri, adalah sesuatu yang halal, jelas perintahnya dalam Qur’an, jelas Sunnah (i.e tata cara pengamalannya) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah, sallalahua alayhi wa sallam. Kita tidak dalam posisi untuk mempertanyakan, menentang dan Astaghfirullah, menolak serta mengingkari perintah Allah. Jelas bahwa laki-laki dalam Islam diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri. Dua, tiga, atau empat, akan tetapi jika kita khawatir belum bisa berbuat adil maka satu lebih baik untuk kita, begitu Allah, subhana hu wa ta ala mengajarkan kepada kita.
Posisi Muslimin adalah, “Kami dengar dan kami ta’at”, bukan “Kami dengar tapi sebentar, kami pikir-pikir dulu”. Perintah Allah tidak mungkin dzalim dan menyengsarakan hamba-hambaNya. Pernikahan dengan istri lebih dari satu bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan boleh tidaknya serta halal haramnya karena jelas-jelas boleh dan halal, perkara ada yang melakukannya atau tidak bukanlah menjadi prioritas utama dewasa ini.Bagi yang belum sanggup, satu saja silahkan, bagi yang sudah sanggup dua, tiga atau empat silahkan. Petunjuknya ada dan lengkap silahkan ikuti. Kalau tidak mengikuti petunjuk (Syariat Allah dan Sunnah Rasulullah, salallahu alayhi wasallam),jangankan punya istri dua, punya satu saja rasa rasanya akan menjadi satu persoalan.
Permasalahan yang lebih utama hari ini adalah riba dianggap enteng di tengah-tengah kita. Riba, yang jelas-jelas sudah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, salallahu alayhi wa salam, malah jadi tidak pernah dipersoalkan. Seorang Shaykh zaman ini, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi mengingatkan kita bahwa permasalahan yang kita alami saat ini berakar kepada riba. Kejahatan riba telah merusak segenap tatanan sosial kehidupan kita. Sebuah kutipan: Kejahatan Riba adalah dosa/ kesalahan kedua, setelah syirik, yang paling ditakuti oleh para Penduduk Madinah. Riba memiliki berbagai macam bentuk yang banyak, bunga dalam berhutang adalah salah satu dari sekian banyak penyamaran riba. Tidak berbeda dengan istilah ‘Negara Islam’, istilah kata ‘Bank Islam’ ataupun perbankan Islam(Islamic banking) tidak memiliki akar bahasa Arab bahkan ia merupakan sebuah istilah asing yang bukan bagian dari ajaran Islam dan keberadaannya bertentangan dengan syariat.
Perbankan Islam dan perbankan ‘Konvensional’ memiliki kesamaan arti, riba. Riba sistem perbankan Islam dan pinjaman ‘tanpa bunga’-nya tidak dapat disangkal lagi. Apabila pemberian modal yang dikatakan ‘bersih’ dari yang disebut sebagai perbankan tanpa bunga itu bercampur dengan sistem perbankan yang lebih besar dan dominan, makaia berkecimpung dalam proses penggandaan uang riba. Bahkan sebuah ‘bantuan’ kepada satu negara bisa jadi melibatkan rangkaian ratusan bank yang dihidupi oleh berbagai ragam pemberian modal ribawi. Lebih lengkap tentang riba bisa dilihat di The Judgement on Riba oleh seorang fuqaha Prof. Umar Ibrahim Vadillo.
Sementara waktu persoalan riba malah menjadi persoalan sepele hari ini. Sebagian orang malah menghalalkannya dengan samaran bank Islam, kartu kredit Islam, pasar modal Islam, asuransi Islam dan sebagainya.Riba dan segala kaitanya wajib kita tinggalkan, mari kembali menggunakan Dinar-Dirham sebagai alat tukar yang sesuai fitrah. Kita Muslim harus bersama dengan Amir-amir/ ulama/ fuqaha/ qadi/ Sultan-sultan,untuk kembali mendirikan pasar-pasar dan perdagangan bebas riba, sesuai dengan yang diamalkan oleh Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam. Mari kita kembali menegakkan Zakat, karena pada saat ini Zakat tidak dilaksanakan sesuai dengan rukunnya, baik dari cara pembayaran, penarikan serta pembagiannya. Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama (jamaah) sebagai Muslim, bersama-sama dalam satu barisan yang teratur dan rapat.*catatanKoin Dinar Emas dan Dirham Perak telah dicetak kembali di Nusantara sejak tahun 2000 oleh dibawah otoritas amir-amir agar dapat dipergunakan kembali oleh umat Muslim.
Islam artinya Taat kepada Allah, bukan berpikir dan berpendapat. Allah berfirman dalam al-Qur’an:”Taatlah engkau kepadaKu maka akan Kuberikan furqan”.Kita memohon kepada Allah agar dimampukan untuk berada dalam kepatuhan kepadaNya, perlindungan dari kuffar, musyrikin dan munafiqun. Kita mohon kepada Alllah agar diberikan cinta yang tulus kepada Allah dan Rasulullah, salllalahu alayhi wa salam. Kita memohon kepada Allah agar diberikan jalan (islam) yang lurus.

Almanak

Desember 2018
S S R K J S M
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Dinar Dirham Hari Ini

1 Dinar (Emas)
Rp. 1.380.490

1 Khamsa (Perak)
Rp. 145.072

sumber: wakalanusantara.com

kontak kang abdarrahman

ym: rrachadi
gtalk: rachadi
skype: abdarrahmanrachadi
rrachadi@yahoo.com

Blog Stats

  • 1.967 hits

Laman

Iklan